Essay
Nuklir? Penghancur atau Pemakmur?
Oleh
Ahmad Ilham Ramadhani
Perkembangan mindset orang mengenai nuklir, sebagai suatu
bentuk energi alternative, dalam jumlah kuantitas sangat besar, boleh dibilang
akan selalu sama. Secara mayoritas, orang akan berpikir, bahwa energi itu
nantinya akan menjadi salah satu alat untuk penghancur dunia atau peradaban
manusia. Pada hakikatnya, semua energy alternative maupun non-alternatif,
memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam hal pembentukan energy atau hal yang bersifat
ensensial dan bermanfaat bagi sesama mahkluk hidup.
Bila
kita menengok sekilas mengenai nuklir, kita masih teringat dengan sejarah
tentang Perang Dunia (PD), sebulan
sebelum PD II pecah, tepatnya 2 Agustus 1939, ilmuwan besar Albert Einstein
mengirim surat kepada Presiden AS Franklin Delano Roosevelt. Dalam suratnya
Einstein mengabarkan bahwa Nazi Jerman tengah giat memurnikan uranium-235 dan
kemungkinan akan mengembangkan penemuan baru ini menjadi bom atom yang sangat
spektakuler. Bom berbahan bakar zat radioaktif ini belum pernah dibuat
dimanapun. Kekuatannya yang berjuta-juta kali lipat bahan peledak konvensional
trinitro toluena (TNT) bisa menghancurkan kota dalam hitungan detik.
Tidak
lama setelah surat Einstein diterima presiden, AS segera menggelar suatu proyek
rahasia bersandi “Project Manhattan”. Seratus ribu orang dipekerjakan dalam
pabrik-pabrik yang dibangun di Hanford, Washington, Oak Ridge, Tennese, dan di
laboratorium utama di Los Alamos, New Mexico seluas 20.000 hektar. Banyak pekerja
tidak diberitahu perihal apa yang mereka kerjakan. Insinyur-insinyur penting
mungkin mengerti maksud Project Manhattan, namun mereka lebih memilih bekerja
tanpa banyak bicara dibawah pengawasan penuh J. Robert Oppenheimer, seorang
ahli fisika nuklir.
Memisahkan
isotop uranium-235 yang ada di alam bukan perkara mudah dalam hal ini. Apalagi
sebagian besar terdiri atas isotop uranium dengan nomor massa 238 (U-238).
Kadar U-235 sendiri di alam jumlahnya tidak lebih dari satu persen uranium
metalnya. Padahal, kadar uranium di dalam batuan alam pun hanya 0,7 persen
saja. Untuk inilah, konon AS mem-budget-kan biaya sebesar dua milyar dollar
untuk penelitian dan penciptaan bom atom antara 1939-1945.
Enam
tahun kemudian, kerja keras itu terwujud. Little Boy seberat 4,5 ton dijatuhkan
di atas Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Bom uranium-235 ini membuat cendawan
debu hingga ketinggian 45.000 kaki dengan ledakan dahsyat berantai, kilatan,
api, dan gelombang kejut berkecepatan 1.100 kaki perdetik. Belum lagi efek
ledakan ini menimbulkan hembusan angin berkecepatan ratusan mil perjam hingga
radius puluhan mil. Sebanyak 137.000 nyawa tergulung dalam hitungan detik.
Begitupun gedung-gedung, jembatan, dan semua instalasi, hancur tak bersisa.
Selang
tiga hari kemudian, bom kedua dijatuhkan AS di Nagasaki. Kali ini 78.000 rakyat
menjadi santapan Fat Man, yakni bom atom bermuatan plutonium-239. PD II pun
berakhir dengan berletutnya Jepang kepada Sekutu. Namun lebih daripada itu,
dunia telah menyaksikan suatu kebiadaban dari penemuan baru para ilmuwan fisika
yang sulit diterima akal.
Tragedi
hitam di Jepang pada 6 dan 9 Agustus itu, diakui atau tidak, kemudian membawa
dunia masuk kedalam lorong persaingan membuat nuklir pemusnah. Perjanjian
pencegahan dan pengurangan senjata nuklir dunia tahun 1972 yang terus
digembar-geborkan AS ibarat tak mendapat hirauan. Lagipula, siapa bisa
menjamin, konflik peperangan tidak akan membuat balistik-balistik nuklir yang
telah bertebaran di banyak negara itu diluncurkan? Bahkan oleh AS sekalipun!
Menurut
sebuah sumber penelitian yang dikeluarkan di Prancis April 2002, kini di dunia
sedikitnya terdapat 1.400 reaktor nuklir yang dibangun sejak 1954. Dan
lihatlah, 57 persennya digunakan untuk kepentingan sistem
penyerangan/pertahanan militer. Jumlah itu terdapat antara lain dalam 220 kapal
selam peluncur rudal, 250 kapal serang, 10 kapal induk, dan 14 kapal jelajah.
Sebanyak 245 reaktor nuklir terapung dimiliki AS, Inggris, Prancis, Cina, dan
Rusia di dalam 182 kapal perang. (dikutip dari website)
Sekilas cerita
diatas, mengambarkan betapa dahsyatnya bom dengan berbahan nuklir. Tak bisa
dipungkiri memang bagaimana pelepasan pemikiran manusia tentang nuklir. Pada
dasarnya pemikiran itu yang seharusnya kita kesampingkan dahulu. Mari sejenak
kita berpikir dan merekonstruk ulang makna sebenarnya dari nuklir.
Nukilr, energi
nuklir merupakan salah satu sumber energi di alam ini yang diketahui manusia
bagaimana mengubahnya menjadi energi panas dan listrik. Sejauh ini, energi
nuklir adalah sumber energi yang yang paling padat dari semua sumber energi di
alam ini yang bisa dikembangkan manusia. Artinya, kita dapat mengekstrak lebih
banyak panas dan listrik dari jumlah yang diberikan dibandingkan sumber
lainnnya dengan jumlah yang setara.
Sebagai
pembanding, 1 kg batu bara dan uranium yang sama-sama berasal dari perut bumi.
Jika kita mengekstrak energi listrik dari 1 kg batubara, kita dapat menyalakan
lampu bohlam 100W selama 4 hari. Dengan 1 kg uranium, kita dapat menyalakan
lampu paling sedikit selama 180 tahun.” (whatisnuclear.com)
Proses
pengubahan dari bahan-bahan nuklir untuk menjadi salah satu energy yakni
dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti
atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi
yang bersih. Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat
tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa
lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan
radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Pada tahun
sekitar 2025, bahan bakar minyak, semakin lama akan semakin menurun. Hingg pada
level yang tinggi, minyak tidak akan bisa lagi diperbarui. Butuh suatu
cadangan, atau energy yang tepat guna untuk mereaslisasikan dampak 2025
nantinya. Penggunaan nuklir dalam segi positif, serta merta akan menguntungkan
dan mensejahterakan masyarakat. Jika dibagi dalam bidangnya masing-masing,
terdapat 10 bidang yang masuk dalam ruang lingkup pemanfaatan teknlogi nuklir
tersebut. (1) pertembangan, (2) peternakan, (3)
kedokteran, (4) pertanian, (5)
energy, (6) biologis, (7) pangan, (8) arkeologi, (9)hidrologi, (10)
industri. Sejenak kita akan merasa wow dan terkagum dengan manfaat yang
ditawarkan oleh pemanfaatn nuklir. Tapi, hal tersebut tidak akan bisa terwujud
bila hanya sebuah omongan belaka. Faktanya, masih orang yang belum tahu bila
nuklir dapat dimanfaatkan dalam hal tersebut.
Bila bicara
tentang hal itu, maka selaku mahasiswa, kita mempunyai tanggung jawab yang
penuh atas keterbukaan informasi kepada hal layak, mengenai pemfaatan nuklir
secara dini. Bukan malahan ditutup-tutupi atau seakan-akan masyarakat nantinya
dibohongi tentang nuklir itu sendiri. Tentunya
perlu adanya kawalan yang erat oleh pihak-pihak pemerintah terkait dalam hal
nuklir tersebut.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar