Senin, 12 Mei 2014

Essay NUKLIR

Essay
Nuklir? Penghancur atau Pemakmur?
Oleh Ahmad Ilham Ramadhani


Perkembangan mindset orang mengenai nuklir, sebagai suatu bentuk energi alternative, dalam jumlah kuantitas sangat besar, boleh dibilang akan selalu sama. Secara mayoritas, orang akan berpikir, bahwa energi itu nantinya akan menjadi salah satu alat untuk penghancur dunia atau peradaban manusia. Pada hakikatnya, semua energy alternative maupun non-alternatif, memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam hal pembentukan energy atau hal yang bersifat ensensial dan bermanfaat bagi sesama mahkluk hidup.


Bila kita menengok sekilas mengenai nuklir, kita masih teringat dengan sejarah tentang Perang Dunia (PD), sebulan sebelum PD II pecah, tepatnya 2 Agustus 1939, ilmuwan besar Albert Einstein mengirim surat kepada Presiden AS Franklin Delano Roosevelt. Dalam suratnya Einstein mengabarkan bahwa Nazi Jerman tengah giat memurnikan uranium-235 dan kemungkinan akan mengembangkan penemuan baru ini menjadi bom atom yang sangat spektakuler. Bom berbahan bakar zat radioaktif ini belum pernah dibuat dimanapun. Kekuatannya yang berjuta-juta kali lipat bahan peledak konvensional trinitro toluena (TNT) bisa menghancurkan kota dalam hitungan detik.
Tidak lama setelah surat Einstein diterima presiden, AS segera menggelar suatu proyek rahasia bersandi “Project Manhattan”. Seratus ribu orang dipekerjakan dalam pabrik-pabrik yang dibangun di Hanford, Washington, Oak Ridge, Tennese, dan di laboratorium utama di Los Alamos, New Mexico seluas 20.000 hektar. Banyak pekerja tidak diberitahu perihal apa yang mereka kerjakan. Insinyur-insinyur penting mungkin mengerti maksud Project Manhattan, namun mereka lebih memilih bekerja tanpa banyak bicara dibawah pengawasan penuh J. Robert Oppenheimer, seorang ahli fisika nuklir.

Memisahkan isotop uranium-235 yang ada di alam bukan perkara mudah dalam hal ini. Apalagi sebagian besar terdiri atas isotop uranium dengan nomor massa 238 (U-238). Kadar U-235 sendiri di alam jumlahnya tidak lebih dari satu persen uranium metalnya. Padahal, kadar uranium di dalam batuan alam pun hanya 0,7 persen saja. Untuk inilah, konon AS mem-budget-kan biaya sebesar dua milyar dollar untuk penelitian dan penciptaan bom atom antara 1939-1945.
Enam tahun kemudian, kerja keras itu terwujud. Little Boy seberat 4,5 ton dijatuhkan di atas Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Bom uranium-235 ini membuat cendawan debu hingga ketinggian 45.000 kaki dengan ledakan dahsyat berantai, kilatan, api, dan gelombang kejut berkecepatan 1.100 kaki perdetik. Belum lagi efek ledakan ini menimbulkan hembusan angin berkecepatan ratusan mil perjam hingga radius puluhan mil. Sebanyak 137.000 nyawa tergulung dalam hitungan detik. Begitupun gedung-gedung, jembatan, dan semua instalasi, hancur tak bersisa.

Selang tiga hari kemudian, bom kedua dijatuhkan AS di Nagasaki. Kali ini 78.000 rakyat menjadi santapan Fat Man, yakni bom atom bermuatan plutonium-239. PD II pun berakhir dengan berletutnya Jepang kepada Sekutu. Namun lebih daripada itu, dunia telah menyaksikan suatu kebiadaban dari penemuan baru para ilmuwan fisika yang sulit diterima akal.
Tragedi hitam di Jepang pada 6 dan 9 Agustus itu, diakui atau tidak, kemudian membawa dunia masuk kedalam lorong persaingan membuat nuklir pemusnah. Perjanjian pencegahan dan pengurangan senjata nuklir dunia tahun 1972 yang terus digembar-geborkan AS ibarat tak mendapat hirauan. Lagipula, siapa bisa menjamin, konflik peperangan tidak akan membuat balistik-balistik nuklir yang telah bertebaran di banyak negara itu diluncurkan? Bahkan oleh AS sekalipun!
Menurut sebuah sumber penelitian yang dikeluarkan di Prancis April 2002, kini di dunia sedikitnya terdapat 1.400 reaktor nuklir yang dibangun sejak 1954. Dan lihatlah, 57 persennya digunakan untuk kepentingan sistem penyerangan/pertahanan militer. Jumlah itu terdapat antara lain dalam 220 kapal selam peluncur rudal, 250 kapal serang, 10 kapal induk, dan 14 kapal jelajah. Sebanyak 245 reaktor nuklir terapung dimiliki AS, Inggris, Prancis, Cina, dan Rusia di dalam 182 kapal perang. (dikutip dari website)
                           http://www.acehforum.or.id/                       

Sekilas cerita diatas, mengambarkan betapa dahsyatnya bom dengan berbahan nuklir. Tak bisa dipungkiri memang bagaimana pelepasan pemikiran manusia tentang nuklir. Pada dasarnya pemikiran itu yang seharusnya kita kesampingkan dahulu. Mari sejenak kita berpikir dan merekonstruk ulang makna sebenarnya dari nuklir.

Nukilr, energi nuklir merupakan salah satu sumber energi di alam ini yang diketahui manusia bagaimana mengubahnya menjadi energi panas dan listrik. Sejauh ini, energi nuklir adalah sumber energi yang yang paling padat dari semua sumber energi di alam ini yang bisa dikembangkan manusia. Artinya, kita dapat mengekstrak lebih banyak panas dan listrik dari jumlah yang diberikan dibandingkan sumber lainnnya dengan jumlah yang setara.
Sebagai pembanding, 1 kg batu bara dan uranium yang sama-sama berasal dari perut bumi. Jika kita mengekstrak energi listrik dari 1 kg batubara, kita dapat menyalakan lampu bohlam 100W selama 4 hari. Dengan 1 kg uranium, kita dapat menyalakan lampu paling sedikit selama 180 tahun.” (whatisnuclear.com)
Proses pengubahan dari bahan-bahan nuklir untuk menjadi salah satu energy yakni dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Pada tahun sekitar 2025, bahan bakar minyak, semakin lama akan semakin menurun. Hingg pada level yang tinggi, minyak tidak akan bisa lagi diperbarui. Butuh suatu cadangan, atau energy yang tepat guna untuk mereaslisasikan dampak 2025 nantinya. Penggunaan nuklir dalam segi positif, serta merta akan menguntungkan dan mensejahterakan masyarakat. Jika dibagi dalam bidangnya masing-masing, terdapat 10 bidang yang masuk dalam ruang lingkup pemanfaatan teknlogi nuklir tersebut. (1) pertembangan, (2) peternakan, (3)  kedokteran, (4) pertanian, (5)  energy, (6) biologis, (7) pangan, (8) arkeologi, (9)hidrologi, (10) industri. Sejenak kita akan merasa wow dan terkagum dengan manfaat yang ditawarkan oleh pemanfaatn nuklir. Tapi, hal tersebut tidak akan bisa terwujud bila hanya sebuah omongan belaka. Faktanya, masih orang yang belum tahu bila nuklir dapat dimanfaatkan dalam hal tersebut.

Bila bicara tentang hal itu, maka selaku mahasiswa, kita mempunyai tanggung jawab yang penuh atas keterbukaan informasi kepada hal layak, mengenai pemfaatan nuklir secara dini. Bukan malahan ditutup-tutupi atau seakan-akan masyarakat nantinya dibohongi tentang nuklir itu  sendiri. Tentunya perlu adanya kawalan yang erat oleh pihak-pihak pemerintah terkait dalam hal nuklir tersebut. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar